Sajak dan Puisi Pilihan Terbaik Sapardi Djoko Damono

Posted on

Sapardi Djoko Damono merupakan seorang sastrawan sekaligus penyair kelahiran Surakarta Tahun 40′. Beliau telah cukup lama berkecimpung di dunia kesastraan di Indonesia. bahkan hingga saat ini pun, walaupun usianya telah menginjak hampir 80 tahun. beliau masih tetap aktif untuk menulis ataupun mengkritisi karya sastra.

Berikut ini merupakan Sajak dan Puisi Termahsyur dari Sapardi Djoko Damono. Salah satunya terdapat Puisi “Aku Ingin” yang merupakan Puisi sehingga mengantarkan beliau menjadi terkenal.

1. Puisi “Aku Ingin”

Karya: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan                                                                                                                                 kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan                                                                                                                        awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

 

2. Sajak “Sajak Kecil Tentang Cinta”

Karya: Sapardi Djoko Damono

Mencintai angin harus menjadi siut…
Mencintai air harus menjadi ricik…
Mencintai gunung harus menjadi terjal…
Mencintai api harus menjadi jilat…
Mencintai cakrawala harus menebas jarak…
Mencintai-Mu harus menjadi aku

 

3. Puisi “Yang Fana Adalah Waktu”

Karya: Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

 

4. Puisi “Pada Suatu Hari Nanti”

Karya: Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…

 

5. Sajak “Tafsir”

Karya: Sapardi Djoko Damono

Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkanaku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

Demikian karya-karya Puisi dan Sajak dari Sapardi Djoko Damono, semoga bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca dalam membuat sajak ataupun puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *