Contoh cerpen singkat dengan gaya penulisan satire

Posted on

Cerpen atau cerita pendek merupakan sebuah karya tulis/prosa yang ditulis secara pendek (kurang dari 10.000 kata).

Pada umumnya cerpen merupakan sebuah kisah fiksi yang diceritakan oleh seorang penulis,tetapi terkadang ada beberapa cerpen yang ditulis berdasarkan kisah dari kenyataan yang sebenarnya.

Cerpen memiliki banyak sekali tema yang diangkat. mulai dari persahabatan, kisah cinta, perjalanan hidup, dan lain sebagainya. untuk saat ini kita akan membahas cerpen dengan tema Satire yaitu cerpen tulisan dari pengararang Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Saksi Mata.

Saksi Mata

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Saksi mata itu datang tanpa mata.

Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. dari lubang pada bekas Tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus-menerus dari lubang mata itu.

Darah membasahi pipinya, membasahi bajunya, membasahi celananya, membasahi sepatunya, dan mengalir perlahan lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya Sudah dipel bersih-bersih dengan karbol yang tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap, sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan tersebut bergairah dengan memotret saksi mata itu dari segala sudut. sampai menungging nungging sehingga lampu kilat yang berkeredep membuat suasana makin panas.

“Terlalu!”

“Edan!”

“Sadis!”

Bapak Hakim yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk ngetuk palunya. Dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.

“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”

Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Saudara saksi mata.”

“Saya, Pak”

“Di mana mata saudara ?”

“Diambil orang, Pak ”

“Diambil”

“Saya, Pak”

“Maksudnya dioperasi? ”

“Bukan Pak, diambil pakai sendok ”

“Haa? Pakai sendok? Kenapa? ”

“Saya tidak tahu kenapa, Pak, Tapi katanya mau dibikin tengkleng.”

” Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?. ”

“Yang mengambil mata saya, Pak ”

“Tentu saja bego, maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”

“Dia tidak bilang siapa namanya, Pak”

“Saudara tidak tanya, bego”

“Tidak, Pak”

“Dengar baik-baik, bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu sebelum atau saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali. mata saudara masih ada di tempatnya kan?”

“Saya, Pak”

“Jadi, saudara melihat Seperti apa orangnya kan?”

“Saya, Pak”

“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yang sekarang mungkin sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”

Saksi mata itu diam sejenak segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan nafas

“Ada beberapa orang, Pak ”

“Berapa?”

“Lima, Pak ”

“Seperti apa mereka? ”

“Saya tidak sempat meneliti pak, habis mata saya keburu diambil duluan sih”

“Masih ingat pakaiannya barangkali?”

“Yang jelas mereka berseragam, Pak”

Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah

Hakim mengetuk-ngetuk kan Palunya, suara lebah menghilang.

“Seragam tentara maksudnya?”

“Bukan, Pak ”

“Polisi?”

“Bukan juga, Pak ”

“Hansip barangkali?”

“Itu lho Pak yang hitam hitam, Seperti di film”

“Muka ditutupi?”

“Iya pak cuman kelihatan matanya”

“Aaah saya tahu, Ninja kan?”

“Nah itu, Pak, Ninja, mereka itulah yang mengambil mata saya pakai sendok”

Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi bapak Hakim yang Mulia mesti mengetuk-ngetukan Palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.

Darah masih menetes perlahan-lahan, tapi terus-menerus dari lubang hitam bekas saksi mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. darah mengalir di ruang pengadilan yang Sudah dipel dengan karbol. darah mengalir memenuhi ruangan pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.

Tapi, orang-orang tidak melihatnya.

“Saudara saksi mata”

“Saya, Pak”

“Ngomong-ngomong, Kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil pakai sendok?”

“Mereka berlima, Pak ”

“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat kamu atau ngapain kek, supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. rumah saudara kan di Gang kumuh, yang berbisik di sebelah rumah saja kedengeran, tapi kenapa saudara diam saja?”

“Habis, terjadinya dalam mimpi sih, Pak”

Orang orang tertawa, Hakim mengetuk palu lagi dengan marah.

“Coba tenang sedikit, ini ruang pengadilan bukan Srimulat.”

Ruang pengadilan itu terasa sumpek orang-orang berkeringat tetapi mereka tidak mau beranjak darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir Hakim meneruskan pertanyaannya

“Saudara saksi mata tadi mengatakan terjadinya di dalam mimpi, apakah maksud saudara terjadinya begitu cepat seperti dalam mimpi?”

“Bukan pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadi dalam mimpi. itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya”

“Saudara serius, jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkanya di bawah sumpah ”

“Sungguh mati saya serius pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadi cuma dalam mimpi. saya malah ketawa ketawa, Pak waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng”

“Jadi, menurut saudara saksi mata segenap mengambil mata itu terjadi di dalam mimpi?”

“Bukan hanya menurut saya, Pak, Memang terjadinya di dalam mimpi”

“Saudara kan, bisa saja gila”

“Lo ini bisa dibuktikan, Pak banyak saksi yang tahu kalau sepanjang malam saya cuman tidur, Pak dan selama tidur tidak ada orang yang mengganggu saya, Pak ”

“Jadi, terjadinya pasti dalam mimpi ya?”

“saya, Pak ”

“Tapi, waktu bangun mata saudara sudah tidak ada?”

“Betul, Pak itu yang saya bingung. kejadiannya di dalam mimpi, Tapi waktu bangun kok ternyata betul betul ya?”

Hakim menggeleng gelengkan kepala tidak bisa mengerti.

“Absurd.” gumamnya

Darah yang mengalir telah sampai di jalan raya.

“Apakah saksi mata, yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi?”

“Tentu saja bisa”, Pikir bapak Hakim yang mulia, “Bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?”

“Saudara saksi mata”

“Saya, Pak”

“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”

“Saya siap, Pak. itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata pak”

“Saudara saksi mata masih ingat semua kejadian, itu Meskipun sudah tidak bermata lagi?”

“Saya, Pak”

“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”

“Saya, Pak”

“Saudara masih ingat bagaimana mereka menembak dengan serabutan, dan orang-orang tumbang seperti pohon pisang ditebang?”

“Saya, Pak”

“Saudara masih ingat, Bagaimana darah mengalir, orang mengarang dengan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”

“Saya, Pak”

“Ingatlah semua itu baik baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satu pun yang bersedia menjadi Saksi di pengadilan kecuali saudara”

“Saya, Pak”

“Sekali lagi apakah saudara saksi mata masih bersedia bersaksi?”

“Saya, Pak”

“Kenapa?”

“Demi keadilan dan kebenaran, Pak”

Ruang pengadilan jadi gemuruh, semua orang bertepuk tangan termasuk Jaksa dan pembela. banyak yang bersorak-sorak beberapa orang mulai membuat yel-yel.

Yang Mulia segera mengetukkan Palu wasiatnya, “husss jangan kampanye disini!” ia berkata dengan tegas.

“Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi” dengan sisa semangat, sekali lagi ia mengetukkan palu, tetapi palu itu patah. orang- orang tertawa, para wartawan yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar. cepat-cepat memotretnya

Klik! klik! klik! klik! Bapak Hakim yang mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.

Dalam perjalanan pulang, bapak Hakim yang mulia berkata kepada sopirnya “Bayangkanlah, betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban lebih besar lagi?” Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah semacam kalimat “Keadilan tidak buta” namun, Bapak Hakim yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalanan yang menjengkelkan.

Darah masih mengalir perlahan-lahan, tapi terus-menerus sepanjang jalan raya. Sampai kota itu banjir darah, darah membasahi segenap pelosok kota, bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun ajaib, tiada seorang pun melihatnya.

Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur, ia berdoa agar kehidupan di dunia fana ini baik-baik saja adanya agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.

Pada waktu tidur, lagi-lagi ia bermimpi lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya.

Kali ini menggunakan catut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *