Dampak Pembakaran Bahan Bakar dan Upaya Mengatasinya

Diposting pada
  • Dampak dari Pembakaran Minyak Bumi

Minyak bumi sebagai sumber energi memberikan manfaat yang besar. Akan tetapi, penggunaan bahan bakar dari minyak bumi khususnya bensin juga akan menghasilkan dampak yang negatif bagi makhluk hidup serta lingkungan. Dari hasil pembakaran bensin akan menjadi sumber polutan udara yang mengandung senyawa hidrokarbon, baik pembakaran secara sempurna maupun tidak sempurna. Pembakaran bensin secara sempurna akan menghasilkan uap air dan karbon dioksida.

Uap air tidak akan berbahaya bagi manusia, akan tetapi uap air merupakan zat yang paling banyak menyusun gas rumah kaca. Sementara itu, karbon dioksida adalah gas yang tidak terlihat dan tidak berbahaya bagi manusia, tetapi disatu sisi karbon dioksida akan membentuk gas rumah kaca bersama uap air dan beberapa jenis gas lainya. Karbon dioksida bersifat meneruskan gelombang pendek sinar matahari dan menahan gelombang panjang sinar matahari(infra merah). Hal inilah yang kemudian mengakibatkan kenaikan suhu di permukaan bumi. Kenaikan suhu akibat dari efek gas rumah kaca disebut dengan pemanasan global.

Oksigen yang tidak mencukupi dalam mesin akan mengakibatkan pembakaran bensin yang tidak sempurna, sehingga akan menghasilkan gas karbon monoksida dan jelaga. Gas karbon monoksida merupakan gas yang berbahaya bagi manusia. Gas ini mempunyai daya ikat dua ratus kali lebih kuat terhadap hemoglobin daripada oksigen. Hal ini mengakibatkan kadar oksigen dalam tubuh menjadi rendah sehingga badan menjadi lemas, pingsan, bahkan hingga mengalami kematian.

Ambang batas gas karbon monoksida dalam udara adalah sebesar 20ppm. Apabila kadarnya lebih dari 100ppm,maka akan menimbulkan sakit kepala dan gangguan pernapasan. Gejala yang timbul akibat dari keracunan gas karbon monoksida adalah sesak nafas, jantung melemah, dan penglihatan berkurang. Jelaga yang dihasilkan pembakaran tidak sempurna dapat mengotori mesin, knalpot, dan benda benda di sekitarnya.

Sebagai salah satu dari hasil pengolahan minyak bumi, bensin juga mengandung pengotor seperti belerang, nitrogen, dan beberapa unsur logam. Pada saat bensin dibakar maka unsur-unsur pengotor tersebut akan membentuk oksida, yaitu oksida belerang, okida nitrogen, dan oksida logam. Selain zat pengotor, bensin biasanya akan diberikan zat aditif berupa TEL(Tetraethyl Lead) yang berfungsi untuk meningkatkan bilangan oktan sehingga dapat lebih memaksimalkan proses pembakaran bensin didalam mesin kendaraan bermotor. Ketika terjadi pembakaran, bensin yang mengandung TEL ini akan mengeluarkan timbal(II) oksida sebagai hasil samping(residu) pembakaran. Akan tetapi, senyawa timbal merupakan senyawa yang beracun dan berbahaya bagi manusia. Partikel-partikel timbal dapat terhirup dan masuk kedalam tubuh melalui darah. Senyawa timbal dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh seperti kerusakan sumsum tulang belakang hingga menghalangi pembentukan hemoglobin dalam darah. Partikel timbal juga mengakibatkan kerusakan fungsi otak, iritasi saluran pernafasan, dan gangguan kerja enzim. Saat inu, penggunaan TEL untuk menaikkan bilangan oktan telah dilarang dan digantikkan dengan MTBE (Methyl Tertiary Buthyl Ether),metanol,etanol,butil alkohol, dan viskon.

  • Upaya Penanggulangan

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi dampak lingkungan akibat dari residu pembakaran bensin. Salah satunya dengan menggunakan pengubah katalitik untuk mengurangi terbentuknya polutan gas berbahaya dari mesin kendaraan. Pengubah katalik terbuat dari baja tahan karat berbentuk silinder yang berisi suatu struktur seperti sarang lebah yang dilapisi logam. Pengubau katalitik diletakkan didalam knalpot sehingga menyaring asap kendaraan.